Ada Ungkapan Harus Siap Dilantik dan Siap Juga Dilengserkan, Akhirnya Kupilih


Oplus_131072

DOMPU, DOMPUPOST. COM
Dari sekian banyak motivasi hidup, ada tiga hal yang bisa dianggap sebagai penggerak utama dinamika hidup manusia saat ini, keinginan untuk menjadi kuat dan berpengaruh, keinginan menjadi kaya, dan keinginan menjadi mulia. Dan untuk mendapatkan ketiga hal itu, segala hal kemudian dilakukan manusia demi mewujudkan tiga tujuan hidup itu. Mulai dengan cara yang baik, sampa dengan cara-cara yang paling tercela. Dan apa yang ditempuh manusia demi tiga hal itu galibnya akan membentuk tren dan kecendungan pada suatu jaman dan masa.

Jabatan atau kekuasaan, sejauh rentang sejarah umat manusia, dianggap dan telah terbukti menjadi wasilah paling populer dan efektif bagi siapa yang menginginkan pengaruh dan kekayaan.

Seperti itulah sekelumit gambaran yang terjadi di era sekarang, dimana pengaruh dan jabatan seperti dua mata sisi yang sulit dipisahkan. Namun, pria yang bernama lengkap Drs. Mokh Nasuhi, M. Si ini memilih jalan berbeda. Disaat orang lain bermimpi dan mendambakan memegang jabatan penting, namun pria alumni Fakultas Tarbiyah IAIN Mataram ini memilih untuk mundur dari jabatan yang belum tiga bulan disandangnya.

Tentu saja berita mundurnya anak pasangan, H. Syamsudin Insan/Hj. Khadijah ini menimbulkan tanda tanya dan beragam komentar dari rekan kerja, sahabat, keluarga, politisi dan juga beberapa pejabat lingkup pemkab Dompu saat itu.

Dari sinilah kilas balik perjalanan ayah dari Nurul Karimatil Ulya dan Ahmad Syauqy ini berawal. Bayangkan saja suami dari Dra. Aminah yang juga berprofesi sebagai guru ini dilantik oleh Kepala Kantor Kementrian Agama Propinsi pada tanggal 24 September 2011, lalu kemudian tidak ada angin dan tidak hujan melayangkan surat pengunduran dirinya pada tanggal 27 Februari 2012. Artinya, jabatan yang diemban oleh Mokh. Nasuhi belum genap tiga bulan.

Dari paparan H. Mokh Nasuhi di dalam buku dengan judul, “Akhirnya Kupilih Mundur”. Kendati keputusan itu berat harus meninggalkan suasana yang indah yang telah terbangun dan terpelihara, namun sujud-sujud panjang terus pula ia lakukan dengan harapan Allah memberikan petunjuk diatas suasana yang ada. Dan secara khusus sholat Istikharah pun digelar untuk mencoba mengetuk pintu-pintu Rabbani diantara keinginan untuk meletakan jabatan dan tetap melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai Kepala Kementrian Agama Kabupaten Dompu.

Dalam rentang waktu seumur jagung Mokh Nasuhi mengakui mencoba menjalani tugas itu penuh amanah dengan sekuat tenaga. Manajemen internal kantor ditata dengan pelan-pelan layaknya mencabut benang diantara tumpukan tepung. Demikian juga penyelesaian pembangunan kantor berlantai dua terus didesak penyelesaiannya hingga tuntas.

Namun, semakin direnungi kata Nasuhi dalam bukunya, semakin tersesak dan merasa tidak mampu lagi menjalani tugas dan tanggung jawab sebagai Kepala Kantor Kementrian Agama. Dan ia mengingat nasehat seseorang dengan ungkapan.” Harus siap dilantik dan siap juga Dilengserkan.”

Dan dalam waktu bersamaan, kata Nasuhi dalam bukunya teringat akan tugas dan tanggungjawabnya sebagai guru dan jurnalistik yang telah mengawali kariernya sebelum menjadi ASN.

“Kedua dunia itu adalah dunia yang penuh kebebasan untuk berekspresi dan menterjemahkan arti sebuah kehidupan.” ujar Magester di STIAMI Jakarta ini. (Jun/bersambung)

Berita Terkait

Top