Mengenang Letusan Gunung Tambora 1815, Bencana Terbesar Mengguncang Dompu dan Dunia
Oplus_16908288
DOMPU, DOMPUPOST. COM –
Dua abad lebih telah berlalu, namun nama Gunung Tambora masih menjadi pengingat besar bagi masyarakat Kabupaten Dompu dan dunia. Gunung setinggi 2.850 mdpl yang berdiri di perbatasan Dompu-Bima ini adalah saksi letusan gunung berapi terbesar dalam sejarah modern pada 10 April 1815.
Letusan itu bukan hanya mengubah wajah Sumbawa. Puncaknya runtuh, membentuk kaldera selebar 6-7 km yang kini menjadi salah satu kaldera terbesar di Indonesia. Material letusan mencapai 160 km³ dan abu vulkaniknya menyelimuti atmosfer bumi hingga menyebabkan penurunan suhu global.
“Bagi warga Dompu, Tambora adalah bagian dari identitas. Dari sanalah kita belajar tentang kebesaran alam dan pentingnya hidup berdampingan dengannya,” ujar H. Abdul Muis, SH, M.Si salah seorang wartawan senior dan Advokat Kamis (28/8/2026).
Dampak letusan tahun 1815 yang sangat dahsyat itu, mengakibatkan Kerajaan Tambora, Pekat, dan Sanggar yang berada di kaki gunung musnah. Lebih dari 71.000 jiwa meninggal akibat letusan langsung, tsunami, kelaparan, dan wabah. Di tingkat global, tahun 1816 dikenal sebagai “The Year Without a Summer” karena gagal panen terjadi di Eropa dan Amerika akibat efek letusan gunung Tambora.
Kini, Gunung Tambora menjadi salah satu destinasi wisata unggulan NTB. Jalur pendakian resmi melalui Desa Pancasila, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, setiap waktu ramai dikunjungi pendaki yang ingin melihat langsung kaldera dan danau kawah. Pada 2015, UNESCO juga menetapkan kawasan ini sebagai Cagar Biosfer Dunia.
Selain wisata, Tambora juga menyimpan nilai sejarah. Tahun 2004, tim arkeolog menemukan desa yang terkubur abu letusan 1815. Temuan itu dijuluki “Pompeii dari Timur” karena rumah, peralatan, dan kerangka manusia awet di bawah timbunan 3 meter abu.
Pemerintah Kabupaten Dompu terus mendorong edukasi kebencanaan dan pelestarian Tambora ke sekolah-sekolah. “Kami ingin anak-anak Dompu tahu, dari bencana besar bisa lahir pelajaran besar tentang kebersamaan, ketangguhan, dan cinta lingkungan,” kata Johani, S. Pdi salah satu guru SD 04 Kempo.
Dua ratus sebelas tahun setelah letusan, namun kini Tambora tetap berdiri Bisu, namun ceritanya terus diajarkan dari Dompu ke seluruh dunia.
*”Dirgahayu RI ke-81 Dari Dompu untuk Indonesia.’ (Amon)








