Seorang Reporter Namanya Jarang Disebut, Memiliki Jasa Besar Untuk Kemerdekaan
Oplus_131072
DOMPU, DOMPUPOST. COM
Pria ini kesehariannya kala itu sebagai Penyiar dan Reporter Radio Hoso Kyoku yang terletak di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta. Reporten ini bernama lengkap Muhammad Yusuf Ronodipuro.
Pada tanggal 14 Agustus 1945 tempat masuk Radio Hoso Kyoku dijaga ketat oleh prajurit Kempetai dan hanya karyawan yang diijinkan lewat. Tidak ada ruang tawar-menawar, tidak yang boleh masuk ataupun keluar dan penyiaran ke luar negeri dihentikan total. Yusuf yang bertugas sebagai Penyiar dan Reporter, dan staf dikurung selamat dua hari penuh dan tampa tahu apa yang terjadi di luar.
Kemudian ketika mereka dalam keadaan terkurung dan dijaga ketat tentera Jepang, datangnya secarik kertas yang mengubah segalanya. Dimana sekitar sore hari Jumat, 17 Agustus 1945, Yusuf pria kelahiran Salatiga, Jawa Tengah, 30 September 1919 ini. Dikejutkan dengan kedatangan seorang pegawai kantor berita Domei bersama Syahrudin yang telah menyusup masuk lewat tembok belakang gedung.
Saat itu Syahrudin membawa selembar kertas berisi pesan dari Adam Malik, mengabarkan bahwa Soekarno dan Muhammad Hatta telah membacakan naskah proklamasi pada pukul 10 pagi.
Dengan penuh semangat yang tinggi, Yusuf dan rekanya Bachtiar Loebis dan teknisi radio Joe Saragih berkeja cepat. Kendati semua studio siaran dijaga ketat Kempetai, tapi Yusuf ingat satu titik yang luput dari pengawasan yakni studio siaran mancanegara yang sudah tidak aktif. Apalagi saat itu ruangan dimana mereka disekap tidak tersambung dengan pemancar. Dengan kecekatan Joe Saragih, mereka mengalihkan susunan kabel hingga studio agar terhubung ke pemancar internasional.
Dan tepat pukul 19.00 WIB Yusuf Ronodipuro yang saat itu berusia 26 tahun membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia, kemudian selang 20 menit dia membacakan naskah yang sama dalam bahasa Inggris agar radio BBC London, Radio Amerika dan Singapura bisa memahami isinya dan akan meneruskan siaran itu.
Pihak Kempetai juga mendengar siaran itu tertangkap oleh radio Jepang, dan seluruh staf Hoso Kyoku yang terlibat dikenakan hukuman fisik oleh Jepang. Yusuf dan Bachtiar Loebis disergap dan dipukuli hingga babak belur. Bahkan seorang perwira murka dan telah menghunus pedang dan hampir memenggal kepala Yusuf. Namun nyawa Yusuf diselamatkan pegawai Nippon yang datang ke ruangan itu dan berteriak agar penyiksaan dihentikan karena Jepang telah kalah perang.
Perjuangan Yusuf pun dilanjutkan dengan mendirikan Republik Indonesia bersama tokoh radio lainya pada tanggal 11 September 1945. Dan kini kenal dengan RRI dengan slogan “Sekali di Udara Tetap di Udara. Akhirnya Reporter yang berjasa ini wafat pada 27 Januari 2008 dalam usia 88 tahun di RSPAD Gatot Subroto Jakarta. (Amon/sumber sejarah)








