Inilah Sosok Menteri Pendidikan yang Usung Konsep Deep Learning
DOMPU, DOMPUPOST. COM
Bagi publik di Tanah Air, nama Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. sudah tidak asing lagi.
Bahkan akhir-akhir ini, nama pria yang lahir di Kudus 2 September 1968 ini menjadi perbincangan hangat di dunia pendidikan nasional, karena berbagai terobosan yang dilakukan terutama untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Dan namanya semakin berkibar ketika bersama beberapa menteri terkait lainya mengumumkan perubahan status guru PPPK PW ke guru PPPK Penuh Waktu, dan juga perubahan dari guru PPPK Penuh Waktu ke test PNS.
Ia juga sebagai sosok akademisi yang dikenal luas sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2022–2027 ini dipercaya oleh Presiden Prabowo Subianto mengemban amanah besar sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan menengah (Medikdasmen)
Pria asal Kudus ini bukan sekadar birokrat, Abdul Mu’ti membawa latar belakang akademis yang sangat kental serta kepakaran mendalam di bidang pendidikan Islam dan standardisasi sekolah.
Rekam Jejak Akademis dan Organisasi dan perjalanan pendidikan Abdul Mu’ti merupakan cerminan dedikasi tanpa henti. Usai menamatkan pendidikan Sarjana di IAIN Walisongo Semarang (1991), ia melanjutkan studi pascasarjana hingga meraih gelar Master of Education dari Flinders University, Australia (1997), serta menyelesaikan program Doktoral di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2008).
Karier mengajarnya bermula dari dosen biasa hingga akhirnya dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Pendidikan Agama Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2020. Pengalaman strategisnya di ranah kebijakan pendidikan publik juga teruji saat menjabat sebagai Ketua Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M) periode 2011–2017 dan Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) pada 2019–2021.
Mengusung Pendekatan Deep Learning
Sebagai Mendikdasmen, salah satu terobosan utama yang menjadi sorotan publik adalah penegasannya mengenai pendekatan pembelajaran Deep Learning.
Pendekatan ini difokuskan pada pemahaman materi secara mendalam oleh peserta didik melalui tiga pilar utama:
Mindfulness: Mengasah kesadaran dan kepekaan berpikir siswa dalam proses belajar.
Meaningful: Memastikan setiap materi yang dipelajari memiliki relevansi dan makna nyata bagi kehidupan siswa.
Joyful: Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan tanpa menghilangkan bobot substansi pembelajaran.
Langkah ini menegaskan komitmennya untuk tidak sekadar mengubah kurikulum, tetapi menyempurnakan kualitas dan pengalaman belajar anak-anak di seluruh pelosok Indonesia. (yesha/Wikipedia)








