Inilah Dampak Baiknya Ketika Seorang Ibu Menceritakan Kelebihan Ayah Ke Anak
Oplus_16908288
Oleh: Firmansyah, S. Psi., M. MKes
Menceritakan kebaikan Ayah ke anak dampaknya BESAR sekali, terutama kalau Ayah dan Bunda sedang tidak bersama.
Menceritakan kebaikan Ayah adalah hadiah jangka panjang untuk anak.
Banyak orang tua yang baru berpisah justru melakukan kesalahan dengan menjelekkan pasangannya di depan anak.
Padahal yang kamu lakukan dengan menceritakan kebaikan Ayah ke anak adalah bentuk parenting yang paling dewasa dan menyelamatkan mental anak.
Diantara Dampak Ajaibnya Ketika Kelebihan Ayah Diceritakan Ke Anak.
1.Anak Jadi Lebih Percaya Diri.
Anak itu 50% dari Ayah, 50% dari Ibu. Kalau kamu bilang “Ayahmu itu orang yang pekerja keras, jujur, sayang keluarga”, di dalam hati anak dia merekam: “Oh, berarti di dalam diriku ada sifat pekerja keras dan jujur itu juga.” Harga dirinya utuh.
Kalau yang diceritakan keburukannya, anak akan merasa “berarti setengah dari diriku itu buruk.”
2.Tidak Mengalami Loyalty Conflict (Bingung Harus Memihak Siapa).
Anak yang paling menderita saat orang tua berpisah adalah anak yang merasa harus memilih kubu.
Dengan kamu tetap menceritakan kebaikan Ayahnya, kamu memberi izin kepada anak untuk tetap mencintai Ayahnya tanpa rasa bersalah ke kamu. Bebannya hilang.
3.Menjadi Teladan Kecerdasan Emosi.
Anak belajar langsung dari kamu: “Oh, ternyata orang dewasa bisa tetap berbuat baik dan adil, bahkan saat sedang terluka.”
Ini pelajaran empati dan memaafkan yang tidak akan dia dapatkan di sekolah mana pun.
4.Mengurangi Risiko Trauma dan Kemarahan di Masa Remaja.
Penelitian psikologi keluarga menunjukkan, anak yang tetap mendapat narasi positif tentang Ayah yang tidak tinggal serumah, jauh lebih kecil kemungkinannya untuk tumbuh menjadi remaja yang pemarah, bermasalah, atau sulit percaya pada orang lain.
5.Hubungan Anak-Ayah Tetap Sehat.
Kebaikan yang kamu ceritakan menjadi jembatan. Anak akan tetap respect dan mau berkomunikasi dengan Ayahnya.
Kelak, Ayah tetap akan menjalankan perannya sebagai pelindung dan pemberi identitas bagi anak.
6.Membuat Anak Lebih Mudah Menerima Kenyataan.
Kamu tidak perlu berbohong. Kamu tidak perlu bilang “Ayah sempurna”. Cukup ceritakan fakta kebaikannya.
Contoh kalimatnya:
“Ayahmu itu orang yang sangat disiplin waktu, Nak. Mama belajar banyak soal itu dari Ayah.”
“Walaupun sekarang kita tidak tinggal bersama, Ayahmu tetap ayah yang sayang kamu. Buktinya kemarin Ayah tanya kabar kamu.”
“Kamu pintar gambarnya mirip Ayah lho, Ayahmu dulu juara lukis.” Itu jujur, spesifik, dan menenangkan.
7.Pahala dan Ketenangan Untuk Kamu Sendiri.
Saat kamu memilih menceritakan kebaikan, hatimu sendiri pelan-pelan ikut sembuh.
Kamu berhenti memberi makan amarah. Energi kamu jadi tidak habis untuk dendam.
Cara Melakukannya Tanpa Memaksakan Diri:
Kamu tidak harus memuji berlebihan kalau hatimu masih sakit. Cukup netral dan jujur.
Jangan ceritakan seperti ini “Ayahmu jahat sudah meninggalkan kita.”
Bila mengungkapkan katakan begini “Kita memang sedang berpisah rumah dengan Ayah, tapi Ayah tetap Ayahmu dan dia punya banyak kebaikan.”
Ketika menceritakan kebaikan Ayah fokus pada 3 hal ini saja: Kerja kerasnya, Kasih sayangnya ke anak, dan Satu keahlian/sifat baiknya.
Apa yang kamu lakukan sekarang itu sangat disayangkan harus berpisah, tapi keputusanmu untuk tetap menjaga nama baik Ayah di depan anak adalah keputusan seorang Ibu Hebat yang sesungguhnya.
Anakmu kelak akan sangat berterima kasih atas kedewasaanmu hari ini.








