Ketika Kartu Biru PWI Mendadak’Sakti’ Dalam Keadaan Darurat
Oplus_16908288
Oleh: Junaidin M. Ali
Usai membeli Dinamo kamipun pulang ke hotel untuk mengemasi barang-barang yang akan dibawa pulang kembali ke Mataram. Kebetulan saat itu hari Sabtu karena sesuai jadwal kami pulang ke Mataram Minggu (30/07/2016).
Sesuai dengan jadwal keberangkatan yang ada di tiket pesawat, kami harus cek-ini di bandar udara Husen Sastranegara, Kota Bandung Jawa Barat yang terletak di Jl. Pejajaran Dalam No. 156 Bandung.
Singkat cerita saat berada di ruang pemeriksaan penumpang, dinamo yang saya tenteng dengan menggunakan tas plastik hijau itupun dilakukan pemeriksaan. Nah, disinilah kisah itu dimulai. Setelah mereka periksa tas plastik warna hijau dimana didalamnya ada dinamo itu, dua orang petugas bandar udara Husen Sastranegara pun dengan teliti memeriksa isi tas berisi dinamo itu.” Maaf pak.. barang ini tidak boleh dibawa ikut terbang, karena akan mengganggu penerbangan.” kata petugas.
Petugas lainya menyarakan agar bawaan yang ada dinamo mobil itu dikirim lewat darat, atau silakan titip dulu ke keluarganya biar mereka yang akan kirim lewat mobil.
Menanggapi permintaan kedua petugas bandar udara tersebut saya menjawab bahwa di Kota Bandung saya tidak memiliki keluarga atau kenalan, kedua kalaupun saya mengirim barang ini lewat darat itu berarti saya harus menunda dulu pulang ke Mataram. Di saat suasana terdesak dan tidak ada pilihan yang harus saya lakukan itulah akhirnya, saya mencoba opsi terakhir.
“Siapa yang bertanggungjawab dan menjadi pimpinan disini.” ujar saya yang dibantu oleh dua rekan saya.
Akhirnya mereka menghubungi pimpinan mereka, dan Alhamdulillah selang beberapa saat hadir dan menemui saya dan dua rekan saya. ” Ada yang bisa saya bantu pak? Ujarnya..sayapun menceritakan masalah yang saya hadapi dan sekalian memperkenalkan diri saya dan dua teman ini anggota PWI NTB, yang kebetulan baru saja mengikuti acara Porwanas di Kota Bandung.
Terlihat dia melunak dengan penjelasan kami, mungkin agar meyakinkan apa betul saya dan dua rekan saya anggota PWI, pimpinan atau yang bertanggungjawab di area pemeriksaan itu meminta kartu Biru PWI saya. Setelah dia perhatikan dan mencocokan dengan wajah saya yang ada di foto, Alhamdulillah dia perintahkan anak buahnya untuk membungkus dinamo itu dengan menggunakan plastik wrapping bandara.
Setelah dilakukan wrapping atau dibungkus, lalu saya bisa membawa plastik yang berisi dinamo itu ke atas pesawat. Setelah melakukan penerbangan dari Bandung, saya dan teman-teman transit di Bandar Udara Ngurah Rai Denpasar. Ternyata disinipun pemeriksaannya lebih ketat lagi. Saat melewati ruang pemeriksaan barang tentengan saya yang berisi dinamo mobil itu kembali dipersoalkan.
“Ini tidak boleh dibawa di atas pesawat pak, harus dikirim menggunakan mobil.” katanya dengan tegas.
Sayapun menjawab,” kenapa petugas bandar udara Husen Sastranegara Bandung mengijinkan barang ini ikut terbang dengan saya pak.”
“Tidak boleh pak harus lewat darat,” kata petugas bandara.
Sayapun belum mau mengalah dan minta kebijakan dari mereka, dengan memberikan alasan kalau lewat darat berarti saya harus berpisah dengan rombongan saya yang sama-sama dari Bandung pulang ke Mataram.
Lalu salah seorang petugas mulai melunak, lalu mengatakan memangnya bapak ada acara apa di Bandung. Sayapun menjawab, saya anggota PWI NTB yang kebetulan bersama rombongan baru saja mengikuti acara Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) khusus wartawan yang tergabung dalam anggota PWI seluruh Indonesia.
Nah, disinipun lagi saya diminta identitas sebagai anggota PWI. Dan kembali Kartu Biru PWI itu mendadak Sakti.
Lalu petugas mengatakan, silakan pak tapi tas berisi dinamo itu harus melalui bagasi. Alhamdulillah ternyata disetiap kesulitan pasti Allah persiapkan kemudahan-kemudahan. (Selesai/jun)








