Belajar Dari Dahlan Iskan Oleh: H. Mokh. Nasuhi
Oplus_131072
Sosok yang lewat itu adalah Dahlan Iskan, Menteri BUMN Indonesia II Tampa dikawal ajudan, pejabat, atau pandawa-pandawa yang layaknya dilakukan terhadap pejabat negara maupun pejabat pemerintah. Bahasa protokoler merupakan bahasa yang acap kali terdengar ketika pejabat melakukan perjalanan, kunjungan atau apapun namanya yang melekat pada pejabat. Istilah itu dalam tataran kenegaraan memang diatur dalam kontes pengamanan sebuah simbol negara. Tapi, itu akan berbanding terbalik dengan keinginan seseorang yang enggan mempertokolerkan sesuatu yang mengarah pada keterikatan dalam menjalankan tata aturan.
Tampa ingin menyamaratakan kondisi tersebut, seorang pejabat yang menjalankan tugas kenegaraan atau keprotokoleran ya tentu sarat dengan aturan keprotokoleran juga. Namun bagi Dahlan Iskan, ia lebih memilih mencari tempat yang biasa dilewati masyarakat umum yang barangkali dengan langkah itu ia lebih paham kondisi dan denyut nadi yang sesungguhnya yang dialami masyarakat yang dipimpinnya. Ini artinya, kebijakan yang akan diambilnya tentu tidak akan lepas dari kondisi riil yang dialami masyarakat.
Bagi yang memahaminya, kondisi ini tidak mengagetkan. Jika satunya kata dengan perbuatan maka otomatis semua itu akan berjalan normal. Apalagi seorang Dahlan Iskan bukanlah seorang sosok yang lahir dari sebuah warisan kekayaan keluarga sehingga ia menjadi tokoh besar dan dipercaya sebagai salah seorang menteri di kabinetnya SBY-Budiono. Ia lahir dari manusia kebanyakan dan memiliki profesi jurnalis yang mumpuni sehingga mampu membawanya sebagai sosok yang mau mendengar, merasakan dan akan menyampaikan setiap nafas kehidupan dari setiap sumber sumber berita maupun masyarakatnya.
Sang CEO JPNN yang sempat menjadi Derektur PLN ini, telah memberikan pembelajaran yang cukup berharga bagi para pejabat di negeri ini. Amanah adalah sebuah tanggung jawab yang tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan keluarga, perorangan atau kelompok. Menjadi pejabat bukan aji mumpung dengan apa yang ada disekitarnya. Justru dengan amanah itu seseorang harus mampu berkorban baik energi fisik, modal, maupun mental. Kesan bermewah-mewahan akan berubah menjadi kesederhanaan meski pada kasat mata ia memiliki harta yang berlimpah. (yesha/ Buku Akhirnya Aku Pilih Mundur/ bersambung)








