Ngopi Bareng,” Media Dalam Balutan Pilkada,” Pers Dihujani Kritik


DOMPU, DOMPUPOST COM
Beragam komentar dan kritikan yang ditujukan kepada pers saat acara Ngopi(Ngobrol Pilkada) Bareng MIO di Gedung PKK Jumat (4/10) malam, mulai dari kegalauan masyarakat terhadap posisi pers di momen Pilkada yang mereka lihat adanya keberpihakan, sampai pada sorotan prilaku dan juga pers telah melupakan fungsinya sebagai media penyejuk, edukasi dan penyampaian informasi yang benar dan akurat.

Pjs Bupati Dompu, Baiq Nelly Yuniarti misalnya berharap agar pers benar benar menjaga marwahnya dengan tetap menjadikan kode etik jurnalistik menjadi yang utama yang harus dipegang oleh setiap wartawan. Kendati diakuinya baik buruknya Dompu di tangan pers, karena kata Pjs Bupati sebaik apapun yang dilakukan oleh pemerintah jika tidak diberitakan pers maka percuma saja. Karena itulah tambah Baiq Nelly Yuniarti kolaborasi antara pers dan pemerintah itu sangat penting.

Pjs Bupati berharap tidak ada lagi pers memberitakan tentang pemblokiran jalan dan masalah lainya yang akan memperburuk citra pemerintah.

“Saya berharap wartawan bisa memberitakan yang positif, karena apapun yang ditulis pers akan menjadi sorotan masyarakat,” ujarnya seraya meminta agar pers memiliki fungsi kontrol yang konstruktif.

Pjs Bupati juga meminta agar pers memberitakan sesuatu peristiwa atau kejadian dengan berimbang, serta menjadi media edukasi, pendidikan dan fungsi kontrolnya dengan baik artinya tidak hanya mengkritik tapi juga berikan solusi.

Kritik dan masukan juga datang dari Ketua Bawaslu Dompu, Swastari, SH selama ini dirinya apresiasi semua kegiatan Bawaslu telah diberitakan oleh media lewat pemberitaan. Selain itu Swastari, melihat ada pemberitaan dalam pilkada ini yang tidak berimbang.”saya minta agar media itu tetap berimbang dalam menyampaikan informasi ke masyarakat” ujarnya.

Sementara itu H. Abdul Muis, SH. M.Si melihat fenomena kegalauan dari pernyataan Pjs Bupati dan Ketua Bawaslu dan juga dari elemen lainya terhadap kinerja pers. Padahal sebenarnya menurut wartawan senior ini sudah jelas tugas dan fungsi pers dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 bahwa pers itu ibarat wasit harus bersikap adil dan tidak boleh memihak serta setiap informasi yang disampaikan harus berimbang.

“Sudah jelas di kode etik jurnalistik, apalagi kalau ada wartawan terlibat tim sukses akan kaco jadinya.” Ujar Abdul Muis.

Dan itu akan semakin parah tambah Abdul Muis, jika ada berita pers yang kecendrungan pada salah satu calon, sehingga calon yang satu di jelek-jelekan dan yang lain di puji, padahal tugas pers itu jelas dituntut adanya transparansi informasi.

Diakui wartawan senior Lombok Post ini saat musim pilkada seperti ini ada pergeseran dan fenomena siapa yang memiliki uang itulah yang menang, nah disinilah peran pers kata Abdul Muis untuk memberikan pencerahan.

Menjawab kritikan dan kegalauan berbagai pihak dalam acara ngopi bareng Mio itu, Ketua PWI Dompu, Nasrullah, S.Sos mengatakan dan tidak menampik adanya kecendurangan pers dalam mendukung salah satu calon, apalagi sejak adanya kewenangan besar pers di era reformasi dan sebelum reformasi yang diberikan UU yang menuntut pers juga harus berorganisasi. UU Pers nomor 40 Tahun 1999 kata Nasrullah sudah sangat jelas mengatur tugas dan fungsi pers dan kode etik jurnalistik yang harus dipatuhi setiap pelaku pers.

“Salah satu bunyinya pers harus bersikap independen dan tidak boleh membuat berita bohong.”katanya.

Ketua MIO Sarwono Al Khan, S. Sos juga tidak menampik adanya fenomena itu di tengah Pilkada saat ini, karena itulah kenapa Ngopi(Ngobrol Pilkada) bareng Mio dilakukan. Ini kata Sarwon semata mata sebagai bentuk kepedulian pihak pers dalam ikut mendukung pilkada Dompu yang damai, transparan dan memiliki kredibilitas sehingga bisa melahirkan pemimpin Dompu yang berkualitas.

“Semua kritikan dan masukan adalah sebagai penyemangat agar pers tetap bisa menjaga marwahnya,” kata Pimpinan Media Lakey News ini, seraya berharap acara serupa juga dapat terus dilakukan kedepanya.(Yesha)

Berita Terkait

Top