Belajar Dari Dahlan Iskan Oleh: H. Mokh Nasuhi
Oplus_131072
DOMPU, DOMPUPOST. COM
Pesawat Lion Air baru saja mendarat di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai Denpasar. Setelah mengambil barang di tempat pengambilan bagasi lalu menuju pintu ceck ini untuk melanjutkan perjalanan pulang. Penerbangan Jakarta-Denpasar sengaja menggunakan Lion Air dan Denpasar-Bima menggunakan Merpati. Pilihan itu dilakukan karena skedul penerbangan Lion siang itu tidak terjadwal menuju Bima.
Pekerjaan yang membosankan adalah ‘menunggu’. Itulah istilah yang acap kali kita dengar ketika seseorang menunggu apa saja. Untuk menguburkan anggapan itu, perlu kiranya kita mencari kesibukan lain apakah dengan membaca koran atau menikmati hilir mudiknya manusia dengan segala kesibukan dan aktifitasnya. Sang porter sibuk mengatur troli dengan barang-barang penumpang, petugas bagasi sibuk mengurus barang bawaan penumpang. Demikian juga petugas pemeriksa tiket tampak ramah melayani setiap penumpang yang menyodorkan tiketnya.
Dalam keasyikan menikmati rutinitas di ruang tunggu bandar udara pagi itu, pemandangan tak umum terjadi di depan mata. Dengan menggunakan kaos bergaris putih-biru dan bercelana jeans dan bertopi dan sepatu cats, sang pejabat ini jalan Tampa pengawal satupun padahal ia seorang pejabat negara. Tentu kita tidak percaya dengan kejadian seperti itu. ” Mana ajudannya, kok tas tentengan dibawa sendiri, kok pejabat ceck ini di penumpang umum” itulah bagian kecil dari deretan pertanyaan yang sempat bergelayut dalam benang siang itu. (bersambung/ yesha)








